Foto di atas adalah suasana di desa kami, desa Kragstalund. Setelah seharian turun salju, seperti inilah jadinya suasana desa. Si tetangga tiap tahun menghias pohon cemaranya dengan lampu Natal. Ditambah salju, jadi lengkap deh!
Dingin? Kalau pas salju turun, udara cenderung jadi segar dan basah, tidak dingin menggigit. Beberapa jam setelah salju turun, nah itu dia. Apalagi ditambah angin. Aduh makdhee..!! Hari Jumat kemarin temperatur sempat ngedrop sampai minus 16 derajat C. Uh kon, susah bernafas dengan normal, karena rasanya hidung tidak mampu lagi menyaring oksigen. Cuma terasa dingin, tapi oksigen yang masuk sangat minim. Nah lho. Jalan satu-satunya ya bernafas pakai mulut. Megap-megap persis ikan bader dah pokoknya.
Yang ini foto perbandingan antara hari Kamis dan Jumat. Lihatlah suasana di parkiran kantor di hari Kamis. My goodness. Tapi di hari Jumat pagi, salju sudah berhenti dan dari jendela ruangan, tampaklah pemandangan ini. I couldn't help thinking waktu itu, waktu berubah, cuaca berubah, tapi Tuhan tetap sama. Dia tak terpengaruh oleh perubahan. Dia pasti tidak jingkrak-jingkrak seperti saya kalau melihat salju turun. He is so cool and collected!!
Dan ketika saya menulis tulisan ini, saya jadi sadar akan sesuatu. Guess what, selama musim dingin, saya tetap sehat, kerja terus tanpa izin sakit. Di Swedia orang benar-benar kreatif menemukan penyakit. Penyakit yang terkenal di musim seperti ini adalah yang namanya winter sickness. Yaitu, tiba-tiba orang sakit perut dan muntah-muntah. Belum pernah nemplok di saya, and will never, by the grace of God! Saya pernah demam dua malam, tapi demamnya soenggoeh pintar, datangnya malam hari. Dan setelah dua malam, wes hewes hewesss!! Bablas demamnya! Dalam nama Yesus, I am healthy and strong, able and ready to do good work!! Glory be to God!!
Ooooohhh Glory!!!!
BalasHapus