skip to main |
skip to sidebar
Pertama-tama, dengarkanlah sodara-sodara. Saya haqul yaqin bahwa we are not what we weigh. Berat badan dan bentuk tubuh kita bukan identitas kita. Kuyus atau endut semua orang tetap berharga, dan nilai seseorang tidak naik turun seperti harga lombok atau timbangan badan. Sebagai orang Kristen, berat badan tidak menentukan keselamatan, puji Tuhan! Bayangkan kalau Tuhan mensyaratkan yang berhak menikmati keindahan surga adalah orang dengan barat badan sekian kilo! Atau tinggi badan sekian cm. Atau warna kulit tertentu (dan saya curiga, kalau ada persyaratan warna kulit pasti yang dipilih masuk surga adalah yang putih. Cuih).
Kali ini saya mau sharing mengenai perjoeangan saya agar tetap bugar dan syukur-syukur turun berat badan. Dengan tinggi badan saya yang cukup sederhana, berat badan saya sekarang ini cukup membuat saya bundar bulat. Dan saya merasa tidak nyaman. Selain itu, karena saya suntik KB, resiko kena osteoporosis jauh lebih besar daripada mereka yang tidak KB. Dokter memperingatkan saya harus rajin olah raga agar tulang tetap kuat.
Saya mulai olah raga di musim dingin 2009. Jalan kaki santai kira-kira 4 km, biasanya dalam perjalanan pulang dari kantor.
Saya punya fitness DVD Elle Macpherson, tapi tidak pernah saya gunakan. Pas masih tinggal di Indonesia, saya punya VCD nya. Saya pernah ajak Sella senam mengikuti VCD itu dan saya ingat Sella sempat jadi "syung-syung" akibat jingklak-jingklak. Hahahaha mesakten. Karena alasan yang sama itulah saya memilih jalan kaki. Lha wong tiap kali habis senam bukannya segar bugar tapi malah lenggek-lenggek seperti hendak tewas. Parahnya lagi, saking capeknya saya jadi tidak bisa tidur. Belum lagi masalah kram di jari kaki. Senam baru mulai 3 menit, jari kaki sudah mak syut kram, sakitnya bukan main. Sebal. Ya sudah, jalan kaki saja, lebih aman. Tuk wak gak pat!
Karena terbiasa jalan kaki, musim semi 2010, bersama teman saya Elisabeth, untuk pertama kalinya saya ikut acara yang namanya "Vår Ruset". Itu adalah acara lari 5 km khusus para wanita. Acara lari, tapi yang mau jalan kaki boleh ikut. Saya dan Elisabeth bukan pelari sama sekali, jadi kami jalan kaki. Dan surprise, kami sampai di garis finish masih bernafas! Setelah terbukti bahwa gerak jalan 5 km tidak mematikan, di akhir musim panas 2010 kami ikut "Tjemil". Acara dengan konsep yang sama dengan "Vår Ruset" tapi lebih menantang - bukan 5 km, tapi 10 km! Karena merasa lebih fit, saya dan Elisabeth sepakat, OK kita jalan, tapi sambil diselingi lari ya. Baiklah. Tapi yang terjadi adalah, hahaha. Karena saya sangat chawatir jadi dehidrasi, setiap kali ada kesempatan minum, saya minum sebanyak-banyaknya. Akibatnya bukan cuma terbebas dari dehidrasi, tapi juga kebelet pipis bukan main! Dan tidak mungkin saya lari seperti kesepakatan semula, karena kalau lari saya pasti ngompol! Hahahaha.
Saya pikir saya sudah jadi super fit dan super langsing dengan berjalan kaki. Ternyata tidak. Berat badan juga masih saja sama. Bulan September 2010, karena sebal, mau tidak mau saya senam mengikuti mbak Elle Macpherson. Masyaaloh. Tidak kram sih, karena Kenta memberi tips yang soenggoeh bagus. Kamu kram karena tubuhmu kurang cairan, katanya. Saya minum banyak-banyak dan jari kaki tidak lagi mak syut. Tapi habis senam rasanya oh my goodness. Legrek baby, legrek! Tapi guess what, di minggu pertama saya sukses senam 3 kali! Ya memang sih, pas waktunya cooling down saya jatuh tertidur di karpet ruang tamu saking capeknya wekekeke. Lama-kelamaan, saya jadi terbiasa senam mengikuti mbak Elle dan tubuh jadi terasa nyaman. Ada kepuasan tersendiri setelah senam karena program ini melatih seluruh tubuh dengan aerobic jingklak-jingklak dan sculpting angkat-angkat dumbel. Suatu sore sepulang kantor, saya nyaris ketinggalan bis dan saya harus lari ke halte bis. Surprise surprise, saya tidak ngos-ngosan seperti biasanya! Berarti fitness level saya sudah meningkat! Saya sudah jadi lebih bugar dibanding sebelumnya! Horee!!!
Saya jadi bersemangat dan jadi lebih tertarik dengan olah raga. Saya mulai rajin melihat-lihat toko online yang menjual fitness DVD. Masih rindu dengan kegiatan jalan kaki, saya beli DVD 5 Mile Fat Burning Walk at home bersama Leslie Sansone. DVD ini cucok sekali digunakan pada saat saya kurang fit dan malas lompat-lompat. Dan, tiap kali melihat DVD ini saya jadi punya cita-cita mulia. Nanti kalau saya pulang kampung, saya mau paksa mbak Nit, Hofi dan keponakan-keponakan gerak jalan bersama saya mengikuti DVD ini! Soalnya program ini sangat sederhana tapi efektif. Cuma gerak jalan di tempat, angkat-angkat tangan dan kaki sedikit, tapi di akhir program kita sudah "jalan" 5 mil! Tidak perlu angkat-angkat dumbel seperti manol, tidak perlu jingklak-jingklak, tapi peredaran darah jadi lancar dan badan jadi segar. Yeii!!
Ini adalah DVD terbaru yang datang hari ini. Saya perlu variasi supaya tidak bosan dan tetap termotivasi. Selain itu, supaya berat badan turun, otot-otot di tubuh harus diberi gerakan bervariasi juga, tidak itu-itu saja selama berbulan-bulan. Sama seperti DVD Elle Macpherson, program ini juga aerobic & sculpting. Visible result by 10 workouts janjinya! Sebelum saya coba, saya tonton dulu seluruh programnya. Aduh mak. Aerobic nya sih kelihatannya asik, tapi sculpting nya itu yang bikin ngeri. Mosok angkat-angkat dumbel sambil tekuk-tekuk kaki begitu, nek kecethit piye? Setelah saya coba, ternyata malah terbalik. Saya baik-baik saja angkat-angkat dumbel sambil tekuk-tekuk kaki, puji Tuhan. Tapi gerakan-gerakan aerobic nya itu yang bikin puyeng! Jadi setelah selesai, saya harus ulangi semua bagian aerobic nya, biar besok saya tidak kebingungan lagi. Sumuk pol jadinya setelah mengikuti senam ini. Sumuk, tapi tidak seperti mau tewas. Dan setelah beberapa menit, detak jantung saya kembali normal. Artinya? Fisik saya lebih kuat, saya lebih fit berkat kegiatan jingklak-jingklak selama ini. Yihhaa!! Siapa mau turut serta???
Natal tahun 2010 ini terasa agak lain, sehingga saya ingin menulis sesuatu tentangnya. Bukan karena ini white Christmas di Swedia yang kedua dari 6 Natal yang sudah saya alami. Bukan pula karena ada bom bunuh diri di Stockholm (tidak ada korban, hanya si geblek itu sendiri yang matek, puji Tuhan!). Tapi lebih karena saya sudah lama tidak pulang kampung, sehingga dalam merayakan Natal pikiran saya banyak tertuju pada ibu, mas-mas, mbak-mbak dan keponakan-keponakan yang sudah bertahun-tahun tidak saya jumpai.
Di Swedia orang mengucapkan selamat hari Natal dengan kata ”God Jul”, diucapkan ”gud yul”. Berbeda dengan di Indonesia, hiruk pikuk Natal sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum Natal. Tahun ini, kegiatan ”Julmiddag” atau Christmas dinner sudah dimulai sejak minggu terakhir bulan November. Sejak minggu pertama masa advent, toko-toko sudah mulai menjual pernik-pernik Natal. Semakin dekat dengan Natal, semakin seru suasananya. Tiba-tiba TV menyiarkan iklan parfum dan wine. Lalu ada iklan lagu yang berbunyi ”All I want for Christmas is you..” berkali-kali sampai saya serasa ter-brainwashed olehnya.
Teman-teman di Swedia sering bertanya: bagaimana suasana Natal di Indonesia? Apa yang kalian lakukan di Indonesia untuk merayakan Natal? Apa ya... saya sering bingung menjawabnya. Kenangan Natal di rumah Bakalan adalah ibu yang setia memasang pohon Natal lengkap dengan kapas dan lampu kelap-kelip. Lalu ada juga kenangan kita sekeluarga pergi ke gereja katolik. Ibu selalu menekankan agar kita datang super awal supaya mendapat tempat di depan. Lalu selama misa kita memegang lilin yang ditusukkan ke selembar kertas bundar, supaya tetesan lilin tidak mengenai tangan kita. Sepulang dari gereja...apa ya? Oh ya, saya ingat ibu memasak kari ayam. Lalu ada juga tart Natal yang dipesan di...toko apa ya itu namanya di Temanggung, yang selalu menerima pesanan tart dan kue-kue? Kemudian di hari Natal, tanggal 25 Desember, ada beberapa tetangga yang datang untuk mengucapkan selamat hari Natal.
Saya ingat Natal tahun 2003, ketika saya ajak Kenta ke Bakalan untuk pertama kalinya. Waktu itu, entah sudah berapa lama saya tidak ke gereja. Ketika Natal tiba, saya agak kebingungan, mau ngapain ya? Saya bertanya pada Mas Guh, dan Mas Guh menjawab: Ke gereja, opo maneh? dengan ekspresi ”what are you, crazy?” Hahaha. Umat Kristiani di Indonesia memang selalu mengasosiasikan Natal dengan pergi ke gereja. Which is good. Lebih baik ke gereja daripada tidak.
Di Swedia, Natal selalu diasosiasikan dengan berada di rumah, berkumpul dengan keluarga. Gereja-gereja, at least gereja Kristen, tidak mengadakan kebaktian di malam Natal. Itulah sebabnya, Natal tahun 2007, Kenta marah besar karena istrinya pulang telat gara-gara pergi ke gereja. Dia tidak habis pikir kok bisa-bisanya keluarga dikorbankan di malam Natal hanya untuk pergi ke gereja. Dan waktu itu saya benar-benar merasa dizalimi, karena hak saya untuk merayakan Natal ”secara Kristen” diganggu. Waktu itu kami janjian mau merayakan Natal di rumah Kjell, adiknya Kenta. Makan malam dimulai jam 5 sore. Jam 2 siang saya masih di kota, tenang-tenang, karena toh masih 3 jam lagi sebelum jam makan malam. Lha kok saya ditelepon, dimarahi habis-habisan. Katanya sebelum jam 3 sore kita sudah harus sampai di rumah Kjell. Lha. Katanya makan malamnya jam 5 sore? Piye to, ra genah.
Ternyata masalahnya terletak pada apa yang terjadi di hampir semua rumah di Swedia pada tanggal 24 Desember jam 3 sore. Pada saat itu SVT 1, TVRI-nya Swedia, menyiarkan acara ”Kalle Anka”, atau Donal Bebek! What?? I know I know. Ini adalah tradisi yang hanya ada di Swedia, yang dimulai sejak tahun 50-an. Pada saat itu, di Swedia tidak ada hiburan di TV sama sekali.
Film-film Walt Disney hanya disiarkan setahun sekali pada malam Natal. Sekarang di zaman modern, meskipun film kartun sudah bermunculan dan disiarkan setiap hari, kegiatan menonton ”Kalle Anka” tetap diteruskan. Tentu saja ada banyak keluarga yang mencemooh acara ini, dan itu bisa dimengerti, karena acaranya ya itu-itu saja, tak pernah berubah dari tahun ke tahun. Mereka ingin ”Kalle Anka” ditiadakan di malam Natal. Tapi masih banyak keluarga yang menghendaki film kartun ini. Kata mereka, apa jadinya Natal tanpa ”Kalle Anka”?
Keluarga Kjell Gustafsson dan Kent Gustafsson masuk dalam golongan yang masih menghendaki ”Kalle Anka”. Bagi saya pribadi, jam 3 sore tanggal 24 Desember, ketika SVT 1 mulai menyiarkan film itu, saat itulah Natal di mulai. Ketika Kenta sudah selesai memanaskan glögg, dan ditempatkan di wadah glögg warisan mama Ula dan papa Lennart (almarhum ibu dan bapak mertua saya), ketika Jansson frestelse sudah masuk oven, saat itulah Natal dimulai. Glögg adalah minuman rempah khas Natal dan Janssons frestelse adalah hidangan ”keharusan” berupa kentang dicampur ikan anchovy dan krim. Ketika bau glögg yang harum dan manis memenuhi isi ruangan, aroma creamy dari Jansson frestelse tercium dari arah dapur, lilin menyala di ruang tamu, dan kami duduk di depan TV menonton Kalle Anka, itulah Natal bagi saya. Terutama Natal kali ini, pada saat itulah saya jadi sangat merindukan ibu, mas-mas, mbak-mbak dan keponakan-keponakan. Itulah saat saya menjadi, istilah bahasa Swedia nya, ”splitrad”. Perasaan saya seperti terbelah di dua tempat. Antara menikmati kebersamaan dengan pria yang saya cintai (plus kucingnya) di negeri saya yang baru, dan berandai-andai kalau saja saat ini saya berkumpul dengan keluarga Indonesia.
Jadi ketika kemarin malam Ibu mengirim sms dan mencurahkan perasaan beliau, saya bisa mengerti perasaan itu. Sepertinya tidak masuk akal mengapa beliau harus merasa bersalah karena merasa belum cukup ngopeni saya semasa saya kecil. Wong saya baik-baik saja kok di sini. Tapi hey, saya sering merasa seperti itu ketika saya sedang merindukan keponakan-keponakan, terutama anak-anak Mbak Nit. Saya melihat masa kecil mereka, dan sekarang mereka sudah beranjak dewasa, dan jauh dari saya! Saya sering jadi bertanya-tanya apakah saat itu, ketika saya bersama mereka, apakah saya sudah cukup menyayangi mereka, dan jawaban yang saya dapat selalu: belum! Dan oh, betapa saya ingin kembali ke masa-masa itu dan menebus semua yang belum saya lakukan! Kerinduan saya pada Ibu lain, tidak seperti itu. Tapi lebih pada ada kekosongan di hati saya dan hanya bisa dilengkapi ketika saya berada di dekat beliau. 
Jadi Ibuchu, Santi tidak tahu apakah ini bisa melegakan perasaan Ibu, tapi percayalah, Ibu sudah berbuat lebih dari cukup untuk Santi. Santi percaya, doa yang selalu Ibu panjatkan membawa Santi ke tempat yang lapang, yang melancarkan dan meluruskan langkah Santi. Santi bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, untuk seorang ibu Lucia Mranani. Kerinduan pada mas-mas dan mbak-mbak juga lain. Saya ingin sekali berkumpul dengan mereka, mendengar cerita mereka, tertawa bersama, curhat, atau sekedar rumpi sari, pokoknya berkumpul! Menjadi bagian dari hidup mereka sehari-hari, dan mengetahui apa yang terjadi dalam keseharian mereka sangat berarti buat saya.
Selamat hari Natal keluargachu; Ibu Nani, mas Didik, mbak Anik, Inu, Tata, mbak Nit, Sella, Memem, Tita, mas Guh, Hofi dan Wawa! I miss you too mas Di, Hawi, Dito & Gaby! Satu hal yang saya syukuri adalah, ketika kerinduan datang menyerang dan tak tertahankan, saya bisa selalu menyerahkan kalian semua ke dalam tangan Tuhan. Dan mengetahui bahwa kalian berada dalam penjagaanNya adalah penghiburan yang sangat besar. Kalian baik-baik saja, dalam Nama Yesus. Puji Tuhan! I love you all!
"...for those who honor Me I will honor, but those who despise Me shall be lightly esteemed." 1 Samuel 2:30.
Kutipan ayat di atas adalah dasar dari ajaran mengenai "Honor" yang saya dengar sekitar 2 bulan yang lalu. Supaya saya tidak nggrambyang lalu malah kotbah mengenai honor, beginilah inti ajaran itu: Siapa yang memuliakan Tuhan, tidak akan disepelekan sama Tuhan. Tidak ada yang suka disepelekan. Kalau tidak mau dicuekin sama Tuhan, kita harus memuliakan Tuhan. Memuliakan bukan berarti kita harus menangis setiap kali kita berdoa atau menyanyi di gereja, meskipun hadirat Tuhan sering membuat kita menangis. Arti yang lebih dalam dari memuliakan adalah menganggap penting, menghargai, memberi value, tidak, seperti istilah saya di atas, menyepelekan, tidak menganggap enteng. Ada banyak cara untuk memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan berarti peduli pada Firman Tuhan. Kalau Firman bilang janganlah kamu mencuri, ya jangan nginep di hotel lalu nyikat handuk rek! (seperti saya dulu sering saya lakukan wekekeke..). Memuliakan Tuhan berarti juga peduli pada pekerjaan Tuhan, yaitu, project-project yang memperlebar Kerajaan Allah. Pembangunan gereja, pembangunan sekolah alkitab, menyantuni fakir miskin dsb dsb. Tidak mungkin kita bisa men-support semua project di seluruh penjuru dunia karena kucing kita juga perlu makan, tapi kalau kita punya niat, Roh Kudus pasti menunjukkan project mana yang bisa kita support. Memuliakan Tuhan berarti juga menganggap penting hamba Tuhan yang kita temui. Bukan berarti kita harus munduk-munduk dan injah-injih pada mereka, tapi lebih pada kesadaran bahwa ketika hamba Tuhan berbicara, mereka membawa pesan dari Tuhan. Jangan tolah-toleh atau tik-tik ping kalau pak/bu pendeta sedang kotbah hihihi.
Dengan dasar ajaran inilah saya jadi tetap stabil dan haqul yaqin bahwa saya tidak bersalah ketika saya akhirnya bisa mencerna bahwa yang minta tolong itu bukan orang main-main. Saya bersyukur saya bersedia membantu pak pendeta ini SEBELUM saya mengetahui siapa beliau sebenarnya. Kalau misalnya beliau adalah pendeta muda yang sedang berjoeang, I would have done it dengan attitude yang sama: This is for the Lord. Bahwa ternyata beliau adalah a big man, itu bonus yang mengasyikan. Ada beberapa orang Indonesia di Swedia yang saya tahu sangat mengasihi Tuhan. Kenapa jadi Santi yang dimintai oleh hamba Tuhan sekaliber beliau, embuh lho, aku ngono ra salah. Dan bahwa ternyata proses shooting jadi super fun, itu juga bukan salah saya. Pekerjaan di ladang Tuhan selalu so much fun, jadi kalau ada yang mau protes, ya proteslah sama si Empunya ladang sana!
So anyway, hari Senin sepulang kantor saya janjian bertemu pak Stanley Sjöberg. Beliau menjemput saya di kantor, lalu kami pergi ke keluarga yang punya semua peralatan untuk membuat film sederhana. Belakangan ketahuan, pasangan suami istri ini, Sören dan Anki, adalah mereka yang mengurus website Webchurch. Mereka mengubah ruang tamu mereka jadi studio, dan di sanalah pak Stanley merekam kotbah dan program-program pendalaman Alkitab.
Sederhana saya bilang, tapi kamera-kamera, mike-mike, lampu dan sembarang kalir peralatan seperti itu belum dimiliki gereja kami! Hmm. Waktunya berdoa minta peralatan canggih nih.
Malam itu pak Stanley mau men-shoot semacam greetings untuk anak-anak di panti asuhan di Sorong, Papua.
Saya diminta bersikap serileks mungkin. Kalau misalnya ada kata-kata yang saya tidak mengerti, langsung saja bertanya, tak perlu ada acara cut. So kami siap-siap, lalu kamera on, mike on, and action. Saya menyapa anak-anak dalam bahasa Indonesia, lalu pak Stanley melanjutkan dalam bahasa Inggris dan saya menterjemahkan. Kenapa beliau tidak memakai bahasa Swedia, itu supaya tidak terdengar terlalu asing di telinga anak-anak. I understand. Saya membayangkan, kalau memakai bahasa Suwediya, nanti anak-anak itu bukannya mendengarkan dengan takzim tapi malah guling-guling cekakakan mendengar bahasa aneh. Dishonor! Bagaimana Pak Stanley bisa terlibat dengan anak-anak yatim piatu di Sorong, itu semua gara-gara beliau ndadak terlibat pembangunan sekolah Kristen di Menado. Lima tahun yang lalu, setelah sukses mendirikan sekolah yang menampung 400 siswa, beliau mendengar mengenai para yatim piatu di Sorong. Hati beliau tersentuh, lalu mulai mencari kontak di Indonesia yang sekiranya bisa membantu beliau di Sorong. Tidak sukses sama sekali. Lalu beliau menelepon seorang hamba Tuhan di USA, dan soenggoeh aneh, just ketika pak Stanley menelepon, di depan hamba Tuhan di USA duduklah seorang pria dari Sorong yang memohon pak USA untuk membantu para yatim piatu ini. Dan mulailah semuanya. Di Sorong, pak Stanley bukan cuma mendirikan panti asuhan, tapi juga chicken farm untuk penduduk di desa sekitar.
Kami berbicara sekitar 20 menit, tapi rasanya cuma 5 menit. Kami menyapa, meng-encourage dan menceritakan dari mana asal dana untuk mereka. Semuanya berjalan cepat, lancar, natural dan fun! DVD ini nantinya akan dibawa ke Sorong oleh seseorang dari gereja di Stockholm. Kami mengakhiri syuting dengan mengucapkan have a merry christmas children! lalu kami berdoa bersama dalam bahasa Indonesia.Sebelum kami mengucapkan terimakasih dan selamat malam sampai jumpa kepada Sören dan Anki, pak Stanley bercerita beliau ingin membuat rekaman seperti ini in regular basis, misalnya 3 bulan sekali. Dan beliau meminta saya untuk lain kali, membagikan at least satu ayat Alkitab kepada anak-anak.
Lha. Ada acara lain kali tah, pak pendeta?
Saya maunya cerita dari awal-wal-wal-wal untuk membuktikan bahwa saya sama sekali tidak bersalah. Tapi saya pikir sudahlah, tak usah berpanjang-panjang. Mau cerita panjang atau singkat, saya haqul yaqin saya tidak bersalah kok. Saya hanyalah wanita sederhana yang tiap pagi saya melakukan kewajibannya, yaitu lari-lari ke halte supaya tidak ketinggalan bis. Kalau sekarang ada kejadian seperti ini, hal itu terjadi di luar kontrol saya.
Hari Kamis malam, melalui ibu mertua seorang teman WNI, saya dilelepon oleh seorang pria yang mengaku pendeta. Orang Suwediya, namanya something Berg. Pak pendeta ini perlu penterjemah karena mau mengirim rekaman ke panti asuhan di Indonesia. Sure, saya dengan senang hati membantu demi anak-anak yatim piatu. Syar syur syar syur kata saya, tapi aslinya masih bingung. Terutama karena saya blas tidak kenal dengan si penelpon ini. Hati saya langsung tersentuh mendengar saya dimintai bantuan demi anak-anak yatim piatu dan saya langsung dengan giat mau membantu. Tapi di lain pihak, you know, saya ini suka impulsif, suka romantis berlebihan, dan itu bisa membuat saya salah langkah dan terlibat dalam kesulitan. Panjenengan ini pendeta ya? tanya saya pada si penelpon, dengan bodohnya. Ha mau tanya apa lagi coba? Namanya juga misih bingung. Iya saya pendeta, jawab si penelpon, nanti saya sms kamu, saya kirim link website saya, kamu akan lihat siapa saya. Baiklah. Kami akhirnya janjian akan bertemu hari Senin setelah jam kantor.
Saya chek link website-nya: webbkyrkan, alias webchurch. www.webbkyrkan.com

Ada foto seorang pria bule bernama Stanley Sjöberg. He looks sooooo familiar! Saya pernah lihat pria ini di mana ya, saya coba ingat-ingat. Ah, pasti saya pernah lihat fotonya di koran The World Today, koran kresten berbahasa Suwediya. OK, at least pria ini benar-benar pendeta. Buktinya punya website dan website nya penuh artikel-artikel kristen. Dan, sudah berumur. Jadi dia bukan penjahat. Baiklah. Saya jadi tenang. Mbesoknya, di kantor, iseng-iseng saya buka lagi website itu. Dan saya kesasar di blog pak pendeta, yang menceritakan kekecewaannya ketika hadir dalam acara debat mengenai homoseksual di TV Suwediya.
DAN JRENG!! OF COURSE!!!! Saya langsung ingat pria ini! Saya nonton acara debat itu! Ini kan pak pendeta yang diserang dari kanan kiri depan belakang karena pendapatnya bahwa homoseksual tidak alkitabiah. Saya ingat sekali saya empet luar biasa dengan manusia-manusia yang ngueyel bahwa homoseksual itu sah-sah saja, dan saya ingat sekali betapa saya mengagumi bapak satu ini karena tetap tenang, calm dan firm dengan keyakinannya. Saya ingat betul saya merasa lega karena ternyata masih ada orang di luar sana, di wilderness of Sweden, yang masih teguh memegang Firman Tuhan. Dan saya dimintai tolong oleh orang yang seperti itu??? WOW-HO!! WHOA!!
Saya jadi tertarik. Lalu saya lihat-lihat lagi website beliau. Kisah hidup beliau. Saya google "Stanley Sjöberg". Ternyata bapak satu ini benar-benar selebritis. Namanya muncul banyak sekali di artikel-artikel gereja dan kekristenan. Turki. Pakistan. Finland. Indonesia. Swedia. Negara-negara itu tempat beliau byayakan selama bertahun-tahun. Beliau sudah malang melintang di dunia persilatan sejak masih moeda belia. Dan sekarang beliau berumur 74 tahun. Saya jadi masyaalah. Saya ini ternyata mau bertemu dengan orang yang committed pada Kerajaan Allah. Saya tanya pada Ken-ken, pernah dengar tentang Stanley Sjöberg tidak? Yup, jawab Ken-ken. Dia pendeta yang terkenal karena pendapatnya yang kontroversial dan bertentangan dengan pendapat-pendapat masyarakat umum. Di koran mana kamu bacanya? tanya saya. Expressen (koran umum, agak-agak penuh skandal-red), jawab Ken-ken. Cucok, pikir saya. He is a man of God.
Belum puas, pas di gereja, saya hampiri pak pendeta Sven. Pernah ketemu langsung dengan pendeta Stanley Sjöberg belum, pak Sven? What do you know about him? Jawab pak Sven, belum, saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau, tapi saya tahu bahwa beliau ini a fine man, hamba Tuhan yang committed dan berpengalaman. Beliau yang memulai acara tahunan Jesus Manifestation di Swedia. What??? Saya kuaget. Tanya-tanya sendiri, kaget-kaget sendiri. Bahwa pak Stanley Sjöberg adalah selebritis, itu sudah bisa saya pahami dengan sukses. Tapi bahwa ternyata beliaulah yang memulai ide acara Jesus Manifestation, acara tahunan yang berhasil mengumpulkan ribuan umat Kristiani dari seluruh penjuru Suwediya di satu tempat untuk memproklamirkan kepada dunia bahwa Jesus is Lord, itu yang saya blas tidak nggagas!! Masyaaloh. Ada apa sih, ada apa kok tiba-tiba kamu tanya tentang beliau, tanya pak Sven. Jawab saya, karena besok pulang kantor saya janjian mau ketemu beliau. What???? gantian pak Sven yang kaget. Kok bisya kok bisya?? pak Sven penasaran. Setelah saya ceritakan apa yang terjadi, pak Sven tertawa bahagia dan berkomentar, God bless you, Santi!
Indeed. I must be really blessed!!
BERSAMBUNG.