Rabu, 27 Juli 2011

Kucing Kecilku yang Ayu Part 1

Setelah Cissi pergi, terbersit bahwa Kenta kepingin kucing ras. Saya tak peduli ras-rasan atau aras-arasen, pokoknya punya kucing. Soalnya a house without a cat is not a home, titik. Kenta kepingin kucing ras Birma. Saya tak peduli, pokoknya kucing. Kenta mulai surfing, saya ikut-ikutan. Entah bagaimana mulanya, saya kesasar di website pengembang kucing Ragdoll. Tertarik pada temperamen Ragdoll, saya tunjukkan website itu ke Kenta. Setelah membaca diskripsi rupa-rupa Ragdoll, Kenta langsung: OK, let’s get a Ragdoll. Horeee!!

Si timuk-timuk ini saya temukan di internet pas iseng-iseng surfing di kantor. Kata penjualnya, dia sangat cuddly sekaligus playful. Saya kirimkan link-nya ke Kenta. Dan, Kenta langsung meng-email si penjual. Dalam email itu Kenta bercerita bahwa kami baru saja kehilangan kucing kami (hiks!) dan kami sangat belcedih. Sepanjang masa dewasa kami, kami adalah manusia perkucingan, jadinya kami tertarik pada cemeng yang kau jual. Email Kenta dibalas, katanya Oh menyedihkan sekali, I’m so sorry about your cipus. You are welcome to our house to see the kitty. Lalu komunikasi berlanjut antara si pengembang dan Kenta melalui telepon. Saya kepingin sekali punya kucing bernama Faith, tapi si cemeng sudah diberi nama Velma. Dan Kenta: sudahlah, Velma nama yang bagus kok, cucok untuk si muk-timuk itu. Ya sutra.

Pada kunjungan pertama, Velma masih berumur 8 minggu, jadi belum boleh dibawa pulang. Menurut peraturan di Swedia, cemeng baru boleh dipisahkan dengan induknya minimal umur 12 minggu. Karena pada umur itu, si cemeng sudah siap disapih, sudah mendapatkan pendidikan dasar perkucingan dari induknya, sudah relatif mandiri, dan biasanya si indukpun sudah bosan ngopeni anak, kepingin bisa flirting-flirting dan dating-dating lagi. Pemisahan terlalu dini, menurut pakar perkucingan, beresiko masalah pada perkembangan psikologis si kucing (masyaalah). Tapi baiklah, kami menurut. Si pengembang, biarpun tampaknya ibu-ibu yang manis, ternyata pengembang yang taat peraturan. Cemeng yang dijualnya semuanya terdaftar di SVERAK (Persatuan Klub Kucing Swedia ). Kucing yang terdaftar di sana jelas asal usulnya. Siapa emaknya, siapa bapaknya, siapa simbahnya dan simbah buyutnya. Selain itu, sebelum diserahkan ke pembeli, si cemeng sudah 2 kali divaksinasi dan di-check up oleh dokter hewan. Juga, si cemeng diberi nomer identitas berupa microchip yang ditanam di tengkuk si cemeng. Dengan microchip ini, kalau misalnya si kucing minggat, orang yang menemukan si kucing bisa menyerahkannya ke kantor polisi atau cat shelter, lalu polisi dan/atau SVERAK, bisa men-scan microchip itu, dan ketahuanlah siapa pemilik si kucing.

Sebulan terasa lama sekali, tapi akhirnya tiba saatnya menjemput Velma! Silla, si bu pengembang, menjelaskan panjang lebar kali luas hal-hal yang perlu kami ketahui. Misalnya kapan harus vaksinasi lagi dan asuransi mana yang paling bagus. Dia juga menyerahkan nomer identitas Velma dan sertifikat silsilah Velma yang dikeluarkan oleh SVERAK. Saya sering menyebut nama Velma adalah Velma Mahmud Gustafsson, tapi nama resmi sebenarnya adalah S*Askrike’s Velma. S* menandakan bahwa itu Persatuan Klub Kucing di Swedia. Askrike adalah nama komersial Silla sebagai breeder, dan Velma adalah nama si cemeng. Jadi dengan melihat nama resminya, bisa ketahuan si kucing lahir di negara mana, siapa dan di mana si pengembang tinggal, dan siapa dan di mana si pemilik kucing tinggal. Dari silsilah si Velma, ketahuan bahwa mbah buyut Velma ada yang tinggal di Belanda, dan ada juga yang diimpor dari Amerika. Oh ya, menurut kategori resmi, Velma adalah Ragdoll jenis Seal Point. Kenapa disebut Seal Point, entahlah saya masih bingung. Menurut saya sih Velma lebih tepat disebut Color Point karena warna hidung, telinga, ekor dan kaki lebih gelap daripada warna badan.

So anyway, Velma pulang ke rumah barunya di Kragstalund dengan status terdaftar, tervaksinasi, terinspeksi dan terasuransi. Asuransi Velma bukan hanya meng-cover biaya perawatan klinik hewan kalau misalnya dia sakit, tapi juga ganti rugi harga pembelian kalau misalnya dia meninggal. Well, tentu saja kami tidak ingin dia meninggal, tapi itu ter-cover juga di asuransinya. Tapi kalau misalnya dia sakit, kami bisa langsung mengambil tindakan tanpa harus terbebani secara finansial. Biaya perawatan kucing luar biasa mahal di sini. Untuk menidurkan Cissi saja misalnya, kami kena tembak 950 SEK, atau sekitar 1 juta rupiah. Kemarin saya ngobrol dengan ibu-ibu yang kucingnya operasi batu ginjal. Biaya operasinya, katanya, sampai 10 000 SEK. Ampun deh. Bayangkan kalau kucing sakit tapi tak bisa berbuat apa-apa karena masalah dompet. Alangkah sedihnya!

Silla menjelaskan bahwa Velma boleh makan makanan kucing sembarang, tapi saat ini dia makan makanan kucing merk Royal Canin. Dibanding semua merk di pasaran, Royal Canin memiliki kadar taurin paling tinggi. Dan taurin ini sangat penting, karena kekurangan taurin bisa menyebabkan kebutaan pada kucing. Baiklah, kalau begitu lanjutkan dengan Royal Canin. Velma belum berumur 4 bulan, jadi harus diberi Royal Canin 34 Baby Cat. Baiklah. Nanti setelah umur 4 bulan mulai makan Royal Canin 36 Kitten. Baiklah. Lalu nanti setelah umur 1 tahun beralih ke Royal Canin Adult. Baiklah baiklah. Dan, tidak boleh makan makanan manusia karena kadar garam pada makanan manusia tidak baik untuk kucing. Nah lho. Itu yang paling sulit.

BERSAMBUNG.

1 komentar: