Kutipan ayat di atas adalah dasar dari ajaran mengenai "Honor" yang saya dengar sekitar 2 bulan yang lalu. Supaya saya tidak nggrambyang lalu malah kotbah mengenai honor, beginilah inti ajaran itu: Siapa yang memuliakan Tuhan, tidak akan disepelekan sama Tuhan. Tidak ada yang suka disepelekan. Kalau tidak mau dicuekin sama Tuhan, kita harus memuliakan Tuhan. Memuliakan bukan berarti kita harus menangis setiap kali kita berdoa atau menyanyi di gereja, meskipun hadirat Tuhan sering membuat kita menangis. Arti yang lebih dalam dari memuliakan adalah menganggap penting, menghargai, memberi value, tidak, seperti istilah saya di atas, menyepelekan, tidak menganggap enteng. Ada banyak cara untuk memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan berarti peduli pada Firman Tuhan. Kalau Firman bilang janganlah kamu mencuri, ya jangan nginep di hotel lalu nyikat handuk rek! (seperti saya dulu sering saya lakukan wekekeke..). Memuliakan Tuhan berarti juga peduli pada pekerjaan Tuhan, yaitu, project-project yang memperlebar Kerajaan Allah. Pembangunan gereja, pembangunan sekolah alkitab, menyantuni fakir miskin dsb dsb. Tidak mungkin kita bisa men-support semua project di seluruh penjuru dunia karena kucing kita juga perlu makan, tapi kalau kita punya niat, Roh Kudus pasti menunjukkan project mana yang bisa kita support. Memuliakan Tuhan berarti juga menganggap penting hamba Tuhan yang kita temui. Bukan berarti kita harus munduk-munduk dan injah-injih pada mereka, tapi lebih pada kesadaran bahwa ketika hamba Tuhan berbicara, mereka membawa pesan dari Tuhan. Jangan tolah-toleh atau tik-tik ping kalau pak/bu pendeta sedang kotbah hihihi.
Dengan dasar ajaran inilah saya jadi tetap stabil dan haqul yaqin bahwa saya tidak bersalah ketika saya akhirnya bisa mencerna bahwa yang minta tolong itu bukan orang main-main. Saya bersyukur saya bersedia membantu pak pendeta ini SEBELUM saya mengetahui siapa beliau sebenarnya. Kalau misalnya beliau adalah pendeta muda yang sedang berjoeang, I would have done it dengan attitude yang sama: This is for the Lord. Bahwa ternyata beliau adalah a big man, itu bonus yang mengasyikan. Ada beberapa orang Indonesia di Swedia yang saya tahu sangat mengasihi Tuhan. Kenapa jadi Santi yang dimintai oleh hamba Tuhan sekaliber beliau, embuh lho, aku ngono ra salah. Dan bahwa ternyata proses shooting jadi super fun, itu juga bukan salah saya. Pekerjaan di ladang Tuhan selalu so much fun, jadi kalau ada yang mau protes, ya proteslah sama si Empunya ladang sana!So anyway, hari Senin sepulang kantor saya janjian bertemu pak Stanley Sjöberg. Beliau menjemput saya di kantor, lalu kami pergi ke keluarga yang punya semua peralatan untuk membuat film sederhana. Belakangan ketahuan, pasangan suami istri ini, Sören dan Anki, adalah mereka yang mengurus website Webchurch. Mereka mengubah ruang tamu mereka jadi studio, dan di sanalah pak Stanley merekam kotbah dan program-program pendalaman Alkitab.
Sederhana saya bilang, tapi kamera-kamera, mike-mike, lampu dan sembarang kalir peralatan seperti itu belum dimiliki gereja kami! Hmm. Waktunya berdoa minta peralatan canggih nih.Malam itu pak Stanley mau men-shoot semacam greetings untuk anak-anak di panti asuhan di Sorong, Papua.
Saya diminta bersikap serileks mungkin. Kalau misalnya ada kata-kata yang saya tidak mengerti, langsung saja bertanya, tak perlu ada acara cut. So kami siap-siap, lalu kamera on, mike on, and action. Saya menyapa anak-anak dalam bahasa Indonesia, lalu pak Stanley melanjutkan dalam bahasa Inggris dan saya menterjemahkan. Kenapa beliau tidak memakai bahasa Swedia, itu supaya tidak terdengar terlalu asing di telinga anak-anak. I understand. Saya membayangkan, kalau memakai bahasa Suwediya, nanti anak-anak itu bukannya mendengarkan dengan takzim tapi malah guling-guling cekakakan mendengar bahasa aneh. Dishonor!
Bagaimana Pak Stanley bisa terlibat dengan anak-anak yatim piatu di Sorong, itu semua gara-gara beliau ndadak terlibat pembangunan sekolah Kristen di Menado. Lima tahun yang lalu, setelah sukses mendirikan sekolah yang menampung 400 siswa, beliau mendengar mengenai para yatim piatu di Sorong. Hati beliau tersentuh, lalu mulai mencari kontak di Indonesia yang sekiranya bisa membantu beliau di Sorong. Tidak sukses sama sekali. Lalu beliau menelepon seorang hamba Tuhan di USA, dan soenggoeh aneh, just ketika pak Stanley menelepon, di depan hamba Tuhan di USA duduklah seorang pria dari Sorong yang memohon pak USA untuk membantu para yatim piatu ini. Dan mulailah semuanya. Di Sorong, pak Stanley bukan cuma mendirikan panti asuhan, tapi juga chicken farm untuk penduduk di desa sekitar.

Kami berbicara sekitar 20 menit, tapi rasanya cuma 5 menit. Kami menyapa, meng-encourage dan menceritakan dari mana asal dana untuk mereka. Semuanya berjalan cepat, lancar, natural dan fun! DVD ini nantinya akan dibawa ke Sorong oleh seseorang dari gereja di Stockholm. Kami mengakhiri syuting dengan mengucapkan have a merry christmas children! lalu kami berdoa bersama dalam bahasa Indonesia.
Sebelum kami mengucapkan terimakasih dan selamat malam sampai jumpa kepada Sören dan Anki, pak Stanley bercerita beliau ingin membuat rekaman seperti ini in regular basis, misalnya 3 bulan sekali. Dan beliau meminta saya untuk lain kali, membagikan at least satu ayat Alkitab kepada anak-anak.

Lha. Ada acara lain kali tah, pak pendeta?
Ohh ya ampuun adikchuuuuuu oohh
BalasHapus